Sabtu, 01 Agustus 2009

Paradigma Seni Rupa Kontemporer (1)

Paradigma Seni Rupa Kontemporer (1)
Seni Modern, Unsur Perasaan Ditinggalkan?

PADA seni klasik, dapat ditemukan komposisi bentuk dan isi cerita/legenda seperti lukisan "Monalisa", dimana tendapat spiritual abad itu tentang "perempuan" yang tidak akan ditemukan pada zaman sesudahnya. Karena adanya evolusi/difusi kebudayaan, maka terjadi perubahan yang disebabkan lingkungan dan waktu. Seni klasik jadi seni peralihan -- impressionisme. Pelukis Renoir dan Manet kala itu berprinsip bahwa "manusia berjarak objektif dengan barang fisik dan manusia berperasaan lebih unggul dari benda". Pada era impresionisme terdapat jarak sebagai batas yang tak terjembatani antara subjek dengan objek, antara manusia dengan alam.

Kreativitas seniman terus bergulir. Bermula ditinggalkannya paradigma klasik Renaisance ke paradigma baru impressionisme (permulaan abad ke-20), lalu ekspresionisme, abstrak, dadaisme, kubisme, abstrak ekspressionisme, abstrak formalisme, pop-art, neo-dada, optic-art, minimalisme, hingga surealisme. Semua gaya (isme) yang berasal dari Barat itu menyebar dan menguasai dunia serta mengkokohkan sebagai seni modern dunia atau modernisme yang sering disebut "seni tinggi" (advance guard).

Seni rupa modern Barat mengklaim dunia sebagai ruang lingkupnya yang berakar pada internasionalisasi ide-ide Barat yang disebut westernisasi yang kemudian membangkitkan reaksi negara-negara non-Barat. Munculnya perkembangan arus utama (mainstream) di pusat-pusat seni rupa modern yang menyudutkan seni rupa di luar Eropa-Amerika dan ditolaknya standar nilai serta perkembangan periferi di luar arus utama, dimana seluruh museum dan galeri seni rupa modern di Amerika menolak karya-karya modern Indonesia dan Thailand. Sebagai reaksi kejadian ini maka muncullah pameran-pameran internasional (KIAS) dari negara-negara nonblok (GNB).

Modernisme pada intinya merupakan suatu keyakinan akan kemandirian nilai estetika yang harus ditingkatkan secara terus-menerus. Keyakinan tersebut melahirkan norma-norma kebaruan, keaslian dan kreativitas. Seniman dituntut untuk menciptakan keharuan dan keaslian, sehingga terjadi penolakan-penolakan sejak tahun 1960-an serta makin memuncak pada masa berikutnya.

Pada pertengahan abad ke-20, modernisme dianggap sebagai suatu beban oleh kaum muda dan mulai ditentang, yang setelah modernisme disebut post-modernism atau post-mo, maka muncullah paradigma baru yakni seni kontemporer. Seni kontemporer memberi terobosan baru yang sangat bebas dalam pengekspresian emosi seniman dan terasa tanpa beban.

Seni kontemporer dapat dipandang secara apresiatif sebagai kegairahan intelektual, setidak-tidaknya menjadi modal bagi tumbuhnya daya respons dalam menyongsong era baru yaitu post-modern, yang dianggap positif mengimbangi humanisme dan intelektual daripada kecenderungan dehumanisasi dan kedangkalan budaya modern yang dimotori ekonomi kapitalis yang transnasional serta inovasi teknologi yang makin canggih.

Di Barat pada 1970-an, muncul suatu reaksi terhadap idealisme high art (advance guard) dan muncul era post-modern yang menampilkan multivariousness. Pendekatan pluralistik yang menekankan unity -- kebersamaan dalam keragaman, merupakan kesamaan reaksi di arus utama terhadap standar-standar senirupa internasional sebagai arus baru perkembangan dan pemikiran seni rupa kontemporer yang lepas dari universalisme dan kaburnya batasan seni rupa modern dari seni rupa kontemporer. Pada seni kontemporer, seniman bebas menengok ke masa lalu, masa kini dan masa mendatang. Dapat pula memakai kekayaan budaya tak terbatas banyaknya. Juga tiada lagi "kebenaran tunggal" dan muncul pluralisme.

Inilah paradigma baru seni kontemporer yang mengandung makna netral dari pengertian seni masa kini. Walaupun situasinya modern disemangati Garde Depan dengan merebaknya happening art, performance art dan seni instalasi. Juga atas kehadiran isu-isu multicultural, gender, sosial, bangkitnya spiritualisme, periferi dan lainnya.

Kematian Zaman Modern
Post-modernism atau pasca-modernisme yang bermula dari gerakan seni masa kini telah bergeser menjadi gerakan budaya. Pergeseran ini dimungkinkan bukan hanya disebabkan basis material kebudayaan (difusi kebudayaan) seperti dari manufaktur ke reproduksi, tapi juga karena para filsuf mengumumkan "kematian zaman modern" untuk menegakkan unity kesepakatan dalam kebersamaan sebagai dasar pembenaran yang plural sebagai paradigma baru serta wacana seni kontemporer.

Untuk memperoleh kejelasan tentang seni kontemporer, perlu dibahas mulai dari seni modern, kemudian bagaimana seni modern akan keluar dari legenda yang menyatakan bahwa seni yang merupakan ekspresi dunia objektif (fisik) tersebut kemudian masuk ke dalam seni kontemporer atau post-mo.

Kehidupan manusia punya dua pijakan dasar yang kuat -- dunia (world) dan sikap dasar (basic attitude). Pada sikap dasar terdapat tiga jenis interest yaitu pengobjektifan, ungkapan, dan penyesuaian norma. Dunia manusia pun terdiri dari tiga -- objektif, sosial dan subjektif.

Seni dalam modernitas hanya ditemukan dalam dunia objektif dan dunia subjektif. Namun estetika dalam modernisme sebagai ekspresi hanya akan ditemukan dalam bidang yang amat khusus umpamanya erotisme. Kesenian modern bukanlah produk sosial, sikap atas rasionalitas ekspresif, sedangkan dunianya dalam dunia objektif.

Diawali oleh Cezanne, dimana jarak antara manusia dan alam dibatasi dengan cara si subjek menguasai objek dengan mengekspresikannya. Dunia objektif dan subjektif yang terpisah dicoba disatukan walaupun dengan cara menguasai objek. Karena itu dalam seni modern, unsur yang subjektif adalah sesuatu yang kurang baik dan tidak alamiah, sehingga Cezanne bukan melukiskan perasaannya tetapi melukis objek di luar dirinya. Objek ditangkap bentuk-bentuk murninya (kubistis) atau menggambar motif dari satu struktur (geometris, antropometris, anatomis, dll). Cezanne bukan mengekpresikan perasaannya, tetapi menganalisa sesuatu untuk diambil bentuk dasarnya, lalu dikeluarkan lagi ke atas kanvasnya.

Seni modern adalah upaya menangkap gejala alam secara objektif dan ekspresi adalah pewujud serta pengantara dari konsep yang objektif itu. Ini berarti, bukan perasaan yang mau disampaikan, tapi konsep objektif mengenai alamiah yang diwujudkan, tanpa perspektif, tanpa efek cahaya, tapi struktur atau motif yang menetap yang hendak ditangkap dan diungkapkan. Dalam seni modern, unsur perasaan mulai ditinggalkan dan yang tersisa adalah analisa. Menurut Habermas, rasionalitas-lah yang dikuasai oleh dunia objektif. Puncak seni modern adalah distorsi dari bentuk atau mencari bentuk yang murni seperti lukisan Pablo Picasso, Mondrian, dll. Dari sini muncul ilmu baru seni rupa yang disebut "distorsi" atau perubahan bentuk.

Pada 1938, pikiran S. Soedjojono (masa Persagi), pada intinya menyatakan seni adalah otonomi, dengan semboyannya "seni harus berjiwa nampak". Gaya ekspresionisme waktu itu sangat diyakini memiliki nilai universal. Universalitas nilai estetik, individualisme, orisinalitas, menekuni "satu gaya" menjadi ciri utama modernisme yang membawa pembaruan dengan istilah humanisme universal. Modernisme di Indonesia kemudian dikembangkan oleh Seni Rupa ITB dengan gaya kubistis, lalu berkembang ke arah abstrak formalisme yang pada zaman Lekra ditentang dimana seni harus dapat dimanfaatkan sebagai sarana sosial dan politik -- sebuah perlawanan kultural yang disebut "Seni Realisme Sosial". Prinsipnya, seni tidak otonom, melainkan sebagai alat/propaganda, dipakai melakukan perbuatan sosial sebagai pengaruh marxism di Soviet.

* Agus Mulyadi Utomo

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar