Kamis, 19 Maret 2009

sinaps

SINAPS: Konsep, Macam dan Cara Kerjanya dalam Menghantarkan Impuls
Oleh: Subhan Pradana, Ni Nyoman Wimma Redita, Selvia Dewi dan Conny Fortuna

Konsep Sinaps

Seorang ahli histologi Santiago Ramon y Cajal, menggunakan golgi pada teknik impregnation, pertama kalinya telah menunjukkan bahwa neuron yang terlihat secara histologis merupakan sebuah unit yang terpisah. Dengan adanya temuan ini, beberapa ahli anatomi mempercayai bahwa jaringan neural (jaringan syaraf) tersusun oleh retikulum yang sambung menyambung berbeda dengan neuron-neuron yang terpisah secara morfologi. Bukti-bukti tegas tentang tidak bersambungannya neuron pada tingkat sel dan tentang wilayah khusus interaksi neural muncul bersamaan dengan ditemukannya mikroskop elektron pada tahun 1940.
Pada tahun 1897, jauh sebelum dasar-dasar ultrastruktural neuron dan interaksi neuron diketahui, hubungan fungsional antara dua neuron dinamakan sebagai ”sinaps” oleh Sir Charles Sherrington, seorang penemu neurofisiologi moderen. Dari hal ini dapat ditarik kesimpulan bahwa ” secra kasat mata sinaps neuron terlihat seperti sebuah persambungan dari ujung-ke ujung, namun pernyataan ini tidalah sesuai saat dilihat dengan mikroskop elektron bahwa sinaps merupakan tempat dimana neuron bertemu dengan neuron lainnya. Ada perbedaan jenis transmisi yang dapat terjadi pada sinaps (Sherrington, 1906, p.21). Meskipun Sherrington tidak memiliki informasi yang mengarahkan pada mikrokonstruktur dari mikrofisiologi daerah khusus interaksi antara sel-sel yang dapat dirangsang, ia memaparkan pemikiran yang luarbiasa, yang ia dapatkan dari disain eksperimen pada refleks spinal kucing dan anjing. Ia menyimpulkan bahwa beberapa sinaps dapat dirangsang, menginisiasi potensial aksi, sedangkan lainnya dihambat, menetralkan inisiasi potensial aksi.
Kini telah diketahui bahwa terdapat dua jenis sinaps utama, transmisi kimia dan transmisi elektrik. Sinaps elektrik akan dijelaskan terlebih dahulu. Sinaps elektrik merupakan sinaps yang lebih cepat alirannya dibandingkan sinaps kimia.

Gambar 1. Menunjukkan bahwa sinaps merupakan tempat persambungan/pertemuan antar neuron

Transmisi Pada Sinaps Elektrik

Pada sinaps elektrik, membrane pre- dan parasinaps berada pada lokasi yang saling berdekatan dan membentuk jalur gap junction dimana aliran elektrik meloncat satu-persatu dari satu sel ke sel lain. Penyuntikan subthreshold arus impuls ke sel A berdampak pada perubahan potensial membran sel tersebut. Jika sejumlah banyak fraksi arus yang disuntikkan pada sel A menyebar melalui gap junction menuju sel B, maka akan terdeteksi perubahan potensial membran pada sel B. Karena adanya aliran potensial yang masuk melewati gap junction dari sel A ke sel B, perubahan potensial elektrik yang terdeteksi melewati membrane sel B akan selalu lebih rendah dari yang terdeteksi pada sel A. Saluran gap junction dimana arus mengalir dari satu sel ke sel lain secara umum (namun tidak selalu) lebih resisten secara simetrik, sedangkan arus biasanya menemukan resisten yang sama pada kedua arah.
Ikatan elektrik diantara dua neuron akan membolehkan arus sirkuit lokal dari potensial aksi dalam satu titik untuk menyebar pada yang lain dan mengalami depolarisasi. Transmisi potensial aksi melalui sinaps elektrik pada dasarnya tidak terdapat perbedaan dalam hal penyebaran dalam satu sel, karenanya kedua fenomena tersebut bergantung pada penyebaran elektrik dari arus sirkuit local sebagai awal potensial aksi untuk berdepolarisasi dan merangsang daerah membran yang baru. Sebagaimana telah kami tuliskan, bahwa terdapat lima faktor yang aman untuk potensial aksi; sehingga pengurangan amplitud dari satu sel ke sel yang lain harus tidak lebih besar dari faktor aman jika depolarisasi elektronik sel postsinaps mencapai level yang tinggi dan menginisisasi impuls. Ini akan menjadi hal yang sangat sulit bagi potensial aksi tunggal yang berasal dari sebuah akson untuk menghandel cukupnya suplay arus sirkuit local melewati sinaps elektrik untuk menghasilkan sebuah potensial aksi pada sel-sel yang besar, seperti serat otot, karena area membran serat otot cukup besar jika dibandingkan dengan akson motoris. Ini merupakan salah satu alasan mengapa sinaps elektrik tidaktersebar luas seperti halnya sinaps kimia.
Transmisi elektrik antara sel-sel yang dapat dirangsang telah pertama kali didemonstrasikan oleh E. J. Furshpan dan D. D. Potter pada tahun 1959 dengan menggunakan jenis ikan crayfish. Sinaps antara serabut saraf besar lateral ikan crayfish dan akson motoris besar memiliki zat umum yang dialirkan dengan alirn yang searah (F-6.14). Sejak 1959, transmisi elektrik telah diketahui berada diantara sel pada sistem saraf pusat, otot polos, otot jantung, sel reseptor dan akson. Karena aliran arus berasal dari sel presinaps menuju postsinaps tanpa jeda, transmisi pada sinaps elektrik lebih cepat dibanding sinaps kimiawi. Transmisi elektrik sangat sesuai untuk sinkronisasi aktivitas elektrik pada sel-sel saraf atau untuk transmisi cepat melewati serangkaian gap junction, seperti halnya yang terjadi pada serabut saraf besar hewan earthworm dan pada miokardium jantung vertebrata.

Transmisi pada Sinaps Kimiawi

Kebanyakan sinaps pada sistem saraf membawa substansi transmiter dimana saraf presinaps berkomunikasi dengan sel postsinaps. Pada gambar 2 kita lihat tibanya potensial aksi presinaps. Depolarisasi mengaktifkan cenel kalsium terminal sehingga Ca2+ masuk. Ca2+ yang masuk menginisiasi eksositosis vesikel yang mengandung substansi transmiter. Vesikel-vesikel tersebut melewatkan kontennya ke daerah ekstraseluler, kemudian transmiter berdifusi sehingga beberapa diantaranya berikatan dengan molekul reseptor pada membran postsinaps. Proses pengikatan transmitter mengaktifkan ion channel yang berasosiasi dengan molekul reseptor, membolehkan ion-ion yang permeabel untuk mengangkut arus postsinaps yang bergantung pada gradien elektrokimia. Arus postsinaps memproduksi potensial postsinaps. Jika perubahan potensial sudah cukup untuk mencapai titik potensial, maka dapat menginisiasi potensial aksi. Secara umum dikatakan bahwa transmisi kimiawi lebih fleksibel dari transmisi elektrik, transmisi kimiawi juga secara bebas membolehkan inhibitor sebagai excitatory action. Sebagai tambahan, transmiter kimia membolehkan serat presinaps kecil untuk merangsang sel postsinaps besar secara kimiawi yang dapat mengaktivkan chanel postsinaps yang membawa arus postsinaps.

Gambar 2. Transmisi pada sinaps secara kimiawi

a)
b)
c)
Gambar 3. Proses jalannya transmisi kimiawi. a) dengan terbukanya chanel maka vesikel pembawa neurotransmitter dapat berdifusi pada membran presinaps keluar menuju celah sinaps. b) neurotransmiter berdifusi melalui celah sinaps dan terikat pada reseptor ion channel pada membran post sinaps. c) aktivasi reseptor pada membran post sinaps.

Kebenaran tentang transmisi kimiawi dan eksistensi substansi transmitter telah menjadi perdebatan sejak enam dekade awal abad ini. Fakta-fakta awal yang mengarahkan kepada substansi transmitter kimia telah diperoleh oleh Otto Loewi (1921), seorang yang menemukan bahwa terdapat penghambatan jantung katak pertama dengan adanya stimulasi dari saraf vagus yang memproduksi substansi yang dapat menyebabkan jantung katak ke-dua berdetak lebih lambat. Temuan Loewi mengarahkan kepada identifikasi subsequen dari acetylcholine (Ach) sebagai substansi transmitter yang dikeluarkan oleh saraf postganglion dan motoneuron yang dapat menginerfasi otot rangka pada vertebrata. Sejak itu, banyak yang telah dipelajari tentang aksi dari substansi transmitter, dan banyak temuan neurotransmitter telah teridentifikasi.

Morfologi Sinaps Kimia

Transmisi kimia terjadi melewati celah sinaps extrasel, ruang 200 ?, separuh membran sel pre dan postsinaps. Ujung presinaps memiliki membran yang berikatan dengan gelembung sinaps, diameter 400 ?, setiapnya mengandung 1x104 sampai 5x104 molekul substansi transmiter. Ujung presinaps mengandung ribuan gelembung tersebut. Selama transmisi sinaps, substansi transfer dilepaskan melalui celah sinaps dan mencapai membran postsinaps melalui difusi. Celah tersebut terisi dengan subuah mucopolosakarida bersama membran pre dan postsinaps yang selalu menunjukkan beberapa tingkatan lapisan pada sinaps.
Transmisi sinaps dilakukan oleh ujung motorik (sinaps neuromuscular) otot rangka vertebrata, khususnya ujung otot sartorius katak. Selain, identitas substansi transmiter dan perbedaaan kuantitas, transmisi sinaps merangsang antara saraf pada sistem saraf pusat dengan transmisi pada sinaps saraf otot, seperti ujung motorik.
Ujung axon bifurcates, kira-kira 2µm cabang tebal pada lekukan lonitudinal sepanjang permukaan serabut otot. Membran otot yang mengalami depresi ke dalam sampai lapisan melinntang dengan ujung saraf adalah zona aktif, daerah transfer ramping dan tebal membran presinaps, diatas gelembung sinaps. Gelembung sinaps dilepaskan sepanjang zona aktif melalui eksositosis. Transmiter dilepaskan dari ujung presinaps oleh potensial aksi di ujung.
Sekali dilepaskan, transmiter asetilkolin pada sinaps neuromuscular vertebrata mengalami hidrolisis melalui enzim asetilkolinase. Sebelum dihidrolisis, asetilkolin berinteraksi dengan molekul reseptor asetilkolin yang berlokasi di membran ujung postsinaps, menyebabkan penutupan saluran ion.

Potensial Sinaps

Pada 1942, Kuffler melakukan eksperimen pada sebuah serabut otot katak yang menunjukkkan depolarisasi gabungan dengan ujung motorik . Hal ini terjadi pada respon ke impuls saraf motorik dan didahului potensial aksi melewati membran sel otot. Perubahan potensial, pada saat tercatat dengan metode kasar extrasel, lebih hebat amplitudo pada ujung dan biasanya hilang dengan jaraksebagai catatan dari daerah ujung.Hal ini termasuk potensial aksi ganda pada sel otot yang berkembang dari depolarisasi lokal gabungan membran presinaps dengan potensial aksi pada ujung presinaps.
Jika eksperimen yang sama diulang dengan miktoelektro pada serabut otot tertutup daerah ujung motorik sebagai catatan:
1. konsentrasi curare tinggi, potensial aksi bisa dilihat meningkat dari potensial istirahat, tetapi dari depolarisasi lebih lambat dan rendah pada amplitudo potensial aksi.
2. Agen pemblok, mengurangi amplitodo potensial postsinaps.
3. Potensial sinaps harus dikeluarkan pada level minimum ke potensial aksi otot

Aliran Sinaps

Aliran ion diproduksi seperti potensial shift sebuah aliran elektik yang ditransfer dari 1 sisi memnran ke sel sinaps yang terbuka melalui aksi substansi transmiter. Transmisi kimia bergantung pada kemampuan substansi transmiter memproduksi perubahan spesifik pad konduktan ion membran postsinaps, untuk mendeterminasi aliran melalui memnbran.
Aliran ion mampu merespon ujung potensial dari beberapa perubahan potensial membran oleh potensial postsinaps pada daerah ujung. Saraf motorik distimulus membran potensial secara konstan melalui umpan balik elektrik. Pelepsan tarnsmiter oleh saraf motorik berakhir yang ditunjukkan oleh sifat-sifat aliran terakhir atau aliran sinaps. Aliran ini digambarkan aliran ion ke bawah gradien elektrokimia saluran pada membran postsinaps yang terbuka oleh aksi transmiter.
Ion membawa ujung motorik aliran yang berinisisasi melalui perubahan konsentarasi extrasel ion dan sama sekali tidak berefek pada aliramn sinaps. Pada jalur iniditemukan aliran sinaps pada ujung yang membwa sejumlah Na+ yang sebagian bertukar dengan K+. Ion Sodium dan Potasium keduanya melewati postsinaps yang sama-sama mengaktifkan saluran ion.Separuh sosium dan potasium saluran diaktifkan oleh depolarisasi membran. Arah saluran sinaps membuka pematang sebagai transmiter yang pindah melalui destruksi enzim dan atau mengambil transmiter sekitar sel. Sekali tranmiter dipindahkan, aliran sinapas mengikuti potensial membran kembali dengan beberapa penghambatan pada tingkat istirahat pada waktu membran konstan.

Potensial Balik

Ketika sebuah transmitter kimia atau stimulus lain mengaktifkan salah satu channel membran yang permeable terhadap 2 ion, yaitu Na+ dan K+, aliran ionik campuran yang dihasilkan mengubah potensial membran menuju level baru keseimbangan potensial antar 2 ion. Perpindahan potensial yang dihasilkan oleh aktivasi channel tidak akan mencapai level tersebut tanpa mengaktifkan sejumlah channel . jika membran potensial awalnya berada pada level yang jauh dari level tersebut, aktivasi channel synaptic akan menghasilkan aliran yang berlawanan atau “balik” arah. Membran potensial yang membalik arah synapticnya disebut potensial “balik”, Erev, untuk arah (dan untuk perubahan potensial) dihasilkan oleh aktivasi channel. Akson presynaptic distimulus sehingga pelepasan transmitter akan mengaktifkan endplate channel (pembawa campuran aliran Na+ dan K+), sementara potensial postsynaptic ditentukan intraselluler. Sebuah aliran dilewatkan melalui membrane postsynaptic untuk memindahkan potensial yang berlaku menjadi bermacam-macam level yang diinginkan. Amplitude potensial synaptic menjadi makin kecil saat potensial awal makin terdepolarisasi oleh aliran yang dipakai. Pada potensial balik antara-10 dan -20 mV, potensial synaptic menghilang. Memindahkan potensial membrane pada level yang lebih positif menyebabkan potensial synaptic muncul kembali, tapi dengan polaritas yang terbalik.
Aliran bi-ionik yang mengalir melalui ACh-pengaktif endplate channel pada otot katak. Jika membran potensial mengapit secara elektronik pada Ek, tekanan yang terjadi pada K+ tidak akan ada dan seluruh aliran yang melalui ACh pengaktif endplate channel akan dibawa oleh Na+ kedalam sel, diarahkan oleh tekanan elektrokimia yang besar, Vm-ENa. seharusnya Vm masih mengapit pada ENa, dan endplate channel diaktifkan oleh ACh. Tidak akan ada tekanan yang terjadi pada Na+, tapi tekanan yang besar terjadi pada K+ dan seluruh endplate channel akan dibawa oleh K+ keluar dari channel yang aktif. Hal tersebut diikuti bahwa diantara ENa dan Ek terdapat membran potensial dimana bagian aliran sodium dan potassium yang melalui endplate channel akan sama dan berlawanan, jadi tidak ada jaringan aliran yang dihasilkan ketika channel terbuka. Konduktansi untuk 2 permean ion , Na+ dan K+, kira-kira sama dan untuk itu potensial balik sama secara aljabar berarti ENa dan Ek. Potensial balik untuk pemberian arah synaptic bergantung pada 2 faktor:
1. Konduktansi relative channel yang diaktifkan menuju permean ion. Ini bergantung pada selektivitas ionic channel.
2. Keseimbangan potensial untuk permean ion (berdasarkan gradient konsentrasinya).
Konsep potensial balik berguna untuk; pertama, penting untuk membedakan antara inhibitor dan kerja synaptic. Kedua, potensial balik dari sebuah aliran ditentukan secara eksperimental memberikan indikasi komposisi ionic suatu aliran. Sebagai contoh, jika perubahan [Na]o mengubah potensial balik untuk pemberian aliran synaptic, ini mengindikasikan bahwa setidaknya bagian dari aliran dibawa oleh Na+. derajat perubahan mengindikasikan proporsi aliran yang dibawa oleh Na+.

Inhibisi Postsynaptic

Peristiwa synaptic yang meningkatkan kemungkinan permulaan potensial kerja pada sel postsynaptic disebut eksitator; sebaliknya, peristiwa yang mengurangi kemungkinan disebut inhibisi. Aliran postsynaptic dengan potensial balik lebih positif daripada level awal didefinisikan sebagai eksitator dan aliran postsynaptic dengan potensial balik pada sisi negative level awal disebut inhibitor. Aliran eksitator tersebut dibawa melalui channel yang permebel terhadap Na+ atau Ca2+ dan K+ pula. Aliran inhibitor synaptic dibawa oleh channel yang permeable pada K+ dan Cl-, sejak kedua dari ion ini memiliki potensial keseimbangan dalam potensial sisa.
Jika potensial balik untuk aktivitas transmitter menjadi sama dengan potensial sisa, tidak ada aliran synaptic dan tidak ada perubahan potensial yang dihasilkan dari bertambahnya konduktansi postsynaptic disebabkan oleh kerja substansi transmitter inhibitor. Meskipun konduktansi C- atau K+ meningkat, potensial membran pada kondisi tertentu akan kembali konstan pada level sisa. Namun, transmitter akan memiliki aksi inhibitor, saat transmitter bertahan untuk mengikat Vm di bawah garis permulaan jika terdapat aktivasi bersama di aliran eksikator. Jika potensial balik lebih negatif daripada potensial sisa, kerja transmitter akan hyperpolar sel menuju level tersebut. Jika potensial balik untuk kerja transmitter lebih positif daripada potensial sisa tapi lebih negative daripada permulaan, transmitter akan menghasilkan depolarisasi. Bagaimanapun, jika transmitter ini bertindak bersamaan dengan transmitter eksitator yang ditampilkan oleh transmitter sendiri, akan akan menyababkan depolarisasi menuju permulaan, hal tersebut akan mengarakan pada depolarisasi yang lebih kecil daripada yang diproduksi sendirian oleh eksitator transmitter.
Tidak ada yang bersifat “eksitator” atau “inhibitor“ mengenai substansi transmitter. Sebagai contoh, acetylcolin adalah eksitator transmitter di endplate motor dan di synaps ganglia symphatetic, menghasilkan kenaikan yang predominan dalam konduktansi sodium dan potassium pada membrane postsynaptic. Bedanya, acetylcolin adalah inhibitor transmitter di ujung parasympathetic pada jantung dan viscera, yang menghasilkan peningkatan pada potassium dan atau substansi chloride. Bagian molekuler ion pada membran postsynaptic menentukan spesifisitas ion guna meningkatkan p[ermeabilitas yang dibentuk melalui membrane postsynaptic ketika reseptornya bereaksi dengan molekul transmitternya. Permeabilitas ion relative dan gradien elektro kimia dari ion permean menentukan level balik dari potensial synaptic, dan faktor-faktor tersebut menentukan apakah efek postsynaptic adalah eksitator atau inhibitor.
Hal tersebut berarti bahwa transmitter yang secara normal inhibitor pada efeknya dalam pemberian sel dapat memiliki kerja eksitator oleh uji distribusi dari gradien ion tertentu melalui membran postsynaptic. Faktanya kerja tersebut telah diinduksi dalam neuron pada spinal cord mamalia dan pada siput. Pada neuron siput tertentu, efek dari transmitter alami (asetilkolin) adalah meningkatkan konduktansi klorida dari membrane postsynaptic. Pada salah satu grup sel (H sel atau sel hyperpolar), konsentrasi Cl- intraselluler adalah sangat rendah jadi Ec, lebih negative daripada potensial sisa. Transmityter neural asetilkolin menghasilkan hyperpolar ketika diberikan pada sel H dengan menbuka channel kloride. Mengizinkan Cl- untuk mengalir kedalam sel dan perpindahan potensial membrane menuju Ec ketika kooride ekstraselluler diganti dengan sulfat, yang tidak dapat melalui channel kloroda, penerapan asetilkolin menuju effluk Cl- yang sekarang telah keluar langsung dari gradien elekrokimia. Nilai negative effluk menghasilkan depolarisasi dan kenaikan pada frekuensi keja potensial. Asetilkolin tersebut, transmitter yang senormal inhibitor sel, akan menghasilkan eksitator, akan menghasilkan eksitator jika gradien elektrokimia iom klorida dibalik.

Inhibisi Presynaptic

Inhibibisi neural juga dapat dihasilkan kerja ujung terminal inhibitor pada terminal presinaptic akson eksitator menyebabkan reduksi pad sejumlah transmitter yang dilepaskan dari terminal eksitator. Efek ini disebut inhibitor presynaptic. Inhibitor transmitter rupanya menaikkan permeabilitas membrane terminal presynaptic pada akson eksitator pada K+ atau Cl-. Kenaikan ini pada konduktansi menurunkan ukuran potensial kerja yang menuju terminal eksitator. Denga demikian mengurangi jumlah eksitator transmitter yang dilepaskan.
Hal itu juga menambah keyakinan bahwa pada beberapa kasus, mungkin terdapat bagian yang tidak aktif dari channel kalsium presynaptic oleh transmitter inhibitor, mengurangi pemasukan Ca2+ menyebabkan berkurangnya pelepasan transmitter. Efek akhir inhibisi presynaptic adalah sel postsynaptic menerima transmitter sedikit atau kurang dan itu akan menghasilkan potensial postsynaptic yang lebih kecil.
Inhibisi presynaptic twelah ditemul\kan dalam pusat system sarf vertebrata, dinana ia memainkan peranan yang luas dalam integrasi synaptic. Inhibisi presynaptic juga telah dijelaskan pada apparatus otot saraf crustacean. Dimana cabang akson yang membuaut inhibitor berakhir pada serat otot juga mengirim cabang yang berakhi pada terminal akson eksitator.

Menghitung Potensial Balik

Harga potensial balik tergantung pada konduktansi relative dari ion permean sama seperti potensial keseimbangannya. Berasumsi bahwa hanya Na+ dan K+ yang permean, level balik dapat dikaitkan dengan konduktansi oleh penggunaan persamaan5-3. harga gk dan gNa menunjukkan konduktansi respective dari 2 ion permean.
Ik = gk (Vm – Ek) (1)
INa = gNa (Vm – ENa) (2)
Pada potensial balik, Ik dan INa harus sama dan berlawanan tanpa menghiraukan konduktansi relative. Hal tersebut, ketika Em pada potensial balik, Erev,
-Ik = INa (3)
Untuk itu, dari persamaan 1 dan 2,
-gk (Vm – Ek) = gNa (Vm – ENa) (4)
Maka jelas bahwa jika gk lebih besar dari gNa, maka Emharus mendekati Ek dari pada ENa dan sebaliknya.
Pemecahan untuk Vm (= Erev) memberikan.
Vm = ( sorry gwe gak tau cara bikinnya) (5)
Dari ini, muncul bahwa Erev tidak akan sesederhana penjumlahan aljabar dari ENa dan Ek, tapi akan berada diantara,bergantung pada rasio gna /gk. Hal itu jika gna dang k menjadi sama satu sama lain (menjelang aktivasi endplate channel oleh ACH pada otot katak ), membrane potensial akan berpindah menuju potensial balik tepat berada pada setengah antara ENa dan Ek :
Untuk otot katak, Ek adalah sekitar -90 mV ,dan ENa sekitar +60. hence menjelang aktivasi synaptic, Erev =
Untuk meringkas, potensial balik dari aliran membrane yang berbeda bergantung pada jenis ion yang berpartisipasi, keseimbangan potensial ion-ion tersebut, dan konduktansi relative untuk setiap jenis ion.
Reseptor Postsynaptic dan Channel

Transmitter mempengaruhi membran postsynaptic untuk memproduksi zat konduktor. Intekraksi atau pengaruh timbal-balik tersebut memerlukan 2 cara:
1. Transmitter memiliki molekul reseptor di membran posrsynaptic.
2. Interaksi molekul reseptor dengan molekul transmitter menyebabkan tertutuonya channel ion.
Secara singkat, channel menjadi aktif, saat channel terbuka yang merupakan reaksi terhadap transmitter-reseptor binding, arus (single - channel current) melalui channel yang terbuka. Sejumlah besar single - channel current memproduksi arus synaptic sebagai reaksi terhadap puluhan atau ratusan atau ribuan molekul transmitter yamg melepaskan diri dari terminal presynaptic sebagai reaksi terhadap potensial presynaptic.

Reseptor Acetylcholine (ACh reseptor)

ACh reseptor terdiri atas 5 gugus protein dengan berat dari 40.000 sampai 65.000. Memiliki struktur tubular dengan berat molekul total 250.000. berat molekul tersebut sesuai dengan struktur ukuran channel bila diamati melalui mikroskop elektron.
ACh reseptor berlokasi pada bagian luar dari membran sel.

ACh - mengaktifkan channel

Seperti telah diketahui, channel postsynaptic pada jarinagn otot motor endplate katak menjadi bersifat permeabel terhadap K+ dan Na+ setelah diaktifkan oleh ACh. Permeabilitas ini menghasilkan arus potensial sebesar -15mV. Saat otot didenervasi oleh saraf motor, ACh secara berangsur-angsur menyebar ke seluruh sel otot, mengindikasikan bahwa reseptor dan channel, yang biasanya dibatasi pada bagian motor endplate dimembran muncul di bagian extrajunctional.

Penurunan Zat konduktor postsynaptic

Transmitter menyebabkan meningkatnya channel postsynaptic dari satu menjadi lebih ion. Ada beberapa sinaps yang merupakan transmitter menyebabkan penurunan pada postsynaptic. Pada transmitter scrotonin (5-hydroxytryptamine, 5-HT) terdapat pada saraf Aplysia californica untuk memproduksi zat konduktor postsynaptic.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar