Kamis, 23 Juli 2009

Jauhi Tiga Perkara!


Pengajian: Jauhi Tiga Perkara!
Oleh : Agus Handoko



Manusia diciptakan kemuka bumi ini untuk mengelola sesuatu yang ada
didalamnya dengan sebenar-benarnya, dan juga untuk menghamba kepada Sang
Khalik Allah Swt.dengan mentaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Setiap perbuatan manusia akan dimintai pertanggung jawabannya di akherat
kelak, maka jalan apa yang akan ditempuh itulah pilihan setiap individu,
yang pada akhirnya manusia akan merasakan bahagia atau sengsara.
Rasulullah saw memberikan jaminan kepada kaum muslimin selama mereka
terbebas dari tiga perkara sebelum kematian terjadi pada dirinya, beliau
bersabda:

???? ????? ?????? ???????? ???? ??????? : ?????????? ?????????????
??????????? ?????? ??????????

Barangsiapa yang mati dan ia terbebas dari tiga hal, yakni sombong,
fanatisme dan utang maka ia akan masuk surga (HR. Tirmidzi(.

Hadis diatas menunjukkan kepada kita semua sebagai ummat Nabi Muhammad
untuk hindari tiga perkara tersebut yaitu : memiliki sifat sombong,
fanatisme kepada golongan dan juga memiliki hutang yang belum dibayar.
Kesemuanya parkara tersebut berdampak negatif bagi setiap jiwa muslim.


1. Sombong.

Sombong adalah sifat yang dimiliki manusia dengan menganggap dirinya
lebih dengan meremehkan orang lain, karenanya orang yang takabbur itu
seringkali menolak kebenaran, apalagi bila kebenaran itu datang dari
orang yang kedudukannya lebih rendah dari dirinya, Rasulullah Saw
bersabda:
?????????? ?????? ???????? ???????? ????????
Takabbur itu adalah menolak kebenaran dan dan menghina orang lain (HR.
Muslim).

Sombong merupakan sifat iblis laknatullah, dengan sebab itulah ia divonis
ingkar/kafir kepada Allah Swt, sebagaimana firman Allah Swt :
"Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk
tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para malaikat: “bersujudlah
kamu kepada Adam”, maka merekapun bersujud kecuali iblis. Dia tidak
termasuk mereka yang sujud. Allah berfirman: Apakah yang menghalangimu
untuk bersujud (kepada Adam) diwaktu Aku menyuruhmu?. Iblis menjawab: aku
lebih baik daripadanya, Engkau ciptakan aku dari api, sedang dia Engkau
ciptakan dari tanah. Allah berfirman: turunlah kamu dari syurga itu,
karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka
keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina (QS 7:11-13,
lihat pula QS 40:60).

Ada banyak dampak negatif atau bahaya dari sifat sombong ini, diantara
adalah: Pertama, Tidak senang pada saran apalagi kritik, hal ini karena
ia sudah merasa sempurna, tidak punya kekurangan, apalagi bila
kesombongan itu tumbuh karena usianya yang sudah tua dengan segudang
pengalaman, ia akan menyombongkan diri kepada orang yang muda, atau
sombong karena ilmunya banyak dengan gelar kesarjanaan.

Kedua, Tidak senang terhadap kemajuan yang dicapai orang lain, hal ini
karena apa yang menjadi sebab kesombongannya akan tersaingi oleh orang itu
yang menyebabkan dia tidak pantas lagi berlaku sombong, karenanya orang
seperti ini biasanya menjadi iri hati (hasad) terhadap keberhasilan,
kemajuan dan kesenangan yang dicapai orang lain, bahkan kalau perlu
menghambat dan menghentikan kemajuan itu dengan cara-cara yang
membahayakan seperti memfitnah, permusuhan hingga pembunuhan.

Ketiga, Menolak kebenaran meskipun ia meyakininya sebagai sesuatu yang
benar, hal ini difirmankan Allah Swt di dalam Al-Qur’an: Dan mereka
mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan (mereka), padahal hati
mereka meyakini (kebenaran)nya. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan
orang-orang yang berbuat kebinasaan (QS 27:14).

Keempat, Dibenci Allah Swt yang menyebabkannya tidak akan masuk syurga.
Allah Swt berfirman: Tidak diragukan lagi bahwa sesungguhnya Allah
mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka lahirkan.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong (QS 16:23).

Di dalam hadits, Rasulullah Saw bersabda:

??? ???????? ?????????? ???? ????? ??? ???????? ????????? ??????? ???? ??????

Tidak masuk syurga orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji sawi
dari sifat kesombongan (HR. Muslim).


2. Ta'asshub atau Fanatisme.

Ta'asshub atau yang dikenal fanatic kepada perorangan atau kelompok
tertentu, hal tersebut terjadi ditengah-tengah masyarakat dan tidak bisa
dipungkiri bahwa manusia termasuk kaum muslimin hidup dengan latar
belakang yang berbeda-beda, termasuk latar belakang kelompok, baik karena
kesukuan, kebangsaan maupun golongan-golongan berdasarkan organisasi
maupun paham keagamaan dan partai politik, hal ini disebut dengan
ashabiyah. Para sahabat seringkali dikelompokkan menjadi dua golongan,
yakni Muhajirin (orang yang berhijrah dari Makkah ke Madinah) dan Anshar
(orang Madinah yang memberi pertolongan kepada orang Makkah yang
berhijrah). Pada dasarnya golongan-golongan itu tidak masalah selama tidak
sampai pada fanatisme yang berlebihan sehingga tidak mengukur kemuliaan
seseorang berdasarkan golongan, hal ini karena memang Allah Swt
mengakuinya, hal ini terdapat dalam firman Allah yang artinya:
"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki
dan seorang perempuan dan menjadikan kamu bersuku-suku dan
berbangsa-bangsa supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang
yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling
bertaqwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal" (QS
49:13).

Manakala seseorang memiliki fanatisme yang berlebihan terhadap golongan
sehingga segala pertimbangan dan penilaian terhadap sesuatu berdasarkan
golongannya, bukan berdasarkan nilai-nilai kebenaran, maka hal ini sudah
tidak bisa dibenarkan, inilah yang disebut dengan ashabiyah yang sangat
dilarang di dalam Islam, apalagi bila seseorang sampai mengajak orang lain
untuk bersikap demikian, lebih-lebih bila seseorang siap mati untuk semua
itu, maka Rasulullah Saw tidak mau mengakui orang yang demikian itu
sebagai umatnya, hal ini terdapat dalam hadits Nabi Saw:

?????? ?????? ???? ????? ????? ??????????? ???????? ?????? ???? ???????
????? ??????????? ???????? ?????? ???? ????? ????? ???????????

Bukan golongan kami orang yang menyeru kepada ashabiyah, bukan golongan
kami orang yang berperang atas ashabiyah dan bukan golongan kami orang
yang mati atas ashabiyah (HR. Abu Daud)


3. Utang.

Dalam hidup ini, manusia seringkali melakukan hubungan muamalah dengan
sesamanya, salah satunya adalah transaksi jual beli. Namun dalam proses
jual beli tidak selalu hal itu dilakukan secara tunai atau seseorang tidak
punya uang padahal ia sangat membutuhkannya, maka iapun meminjam uang
untuk bisa memenuhi kebutuhannya, inilah yang kemudian disebut dengan
utang. Sebagai manusia, apalagi sebagai muslim yang memiliki harga diri,
sedapat mungkin utang itu tidak dilakukan, apalagi kalau tidak mampu
membayarnya, kecuali memang sangat darurat, karena itu seorang muslim
harus hati-hati dalam masalah utang, Rasulullah Saw bersabda:
?????????? ??????????? ????????? ????? ??????????? ??????????? ????????????

Berhati-hatilah dalam berutang, sesungguhnya berutang itu suatu kesedihan
pada malam hari dan kerendahan diri (kehinaan) pada siang hari (HR.
Baihaki)

Bagi seorang muslim, utang merupakan sesuatu yang harus segera dibayar, ia
tidak boleh menyepelekannya meskipun nilainya kecil. Bila seorang muslim
memiliki perhatian yang besar dalam urusan membayar utang, maka ia bisa
menjadi manusia yang terbaik. Rasulullah Saw bersabda:

?????? ???????? ?????????? ???????
Sebaik-baik orang adalah yang paling baik dalam membayar utang (HR. Ibnu
Majah).

Namun apabila manusia yang berutang tidak mau memperhatikan atau tidak mau
membayarnya, maka hal itu akan membawa keburukan bagi dirinya, apalagi
dalam kehidupan di akhirat nanti, hal ini karena utang yang tidak dibayar
akan menggerogoti nilai kebaikan seseorang yang dikakukannya di dunia,
kecuali bila ia memang tidak mempunyai kemampuan untuk membayarnya,
Rasulullah Saw bersabda:

?????????? ????????? ?????? ????? ?????????????? ????????? ???????
????????? ?????? ????? ????????????? ????????? ????????? ????????
???????????? ??????????? ?????? ?????????? ????????? ?????????????.

Utang itu ada dua macam, barangsiapa yang mati meninggalkan utang,
sedangkan ia berniat akan membayarnya, maka saya yang akan mengurusnya,
dan barangsiapa yang mati, sedangkan ia tidak berniat akan membayarnya,
maka pembayarannya akan diambil dari kebaikannya, karena di waktu itu
tidak ada emas dan perak (HR. Thabrani).

Ketiga perkara tersebut jangan sampai terjadi pada diri kita sebagai ummat
Islam. Sehebat apapun orang/golongan/partai yang kita ikuti, namun ketika
berbuat salah maka seyogyanya bagi kita untuk mengislahnya jangan taklid
buta. Hindari sifat yang selalu mendewakan diri sendiri, mengenggap lebih
dari orang lain. Milikilah sifat yang selalu menerima pemberian dari Allah
Swt (Qona'ah), jangan sampai kita memiliki hutang karena selalu tidak puas
terhadap rizki yang kita dapatkan.
Wallahu A'lam Bisshawab.



------------------------------------

----------------------
Catatan: Ini adalah e-mail berlangganan. Anda mendapatkan materi ini karena telah mendaftar di mailing list pesantren@yahoogroups.com. Untuk berhenti: kirim email pesantren-unsubscribe@yahoogroups.com

[ www.PesantrenVirtual.com ]
Hak cipta © 1999-2003 PesantrenVirtual.com. Informasi: info@pesantrenvirtual.comYahoo! Groups Links

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar