Sabtu, 13 Juni 2009

Cerita Pendek poetrakatro

dari www.cerpen.com

Daun Kering

Filed under: Cerita Pendek

Bajuku lusuh, waktu sedang menunjukkan siangnya. Langkahku biarkan menulusuri pelan-pelan koridor. Mataku melihat sosoknya berjalan diseberang dengan seseorang. Wanita itu tertawa riang bersama seseorang. Angin bertiup pelan menyisingkan rok sekolahku. Mata ini terus memperhatikan, tangan mereka saling bergandeng tangan dan tangan yang lainnya saling menunjuk buku. Senyumnya, aku iri dengan sebaris gigi keluar disaat bersamanya sedangkan ketika denganku hal itu tak terjadi. Wanita berkurudung itu terus membuat seseorang yang disampingnya tersenyum manis. Senyum mereka terlalu mengembang hingga membuatku tak dapat tersenyum. Kupaksakan diri untuk terus berjalan namun bagaikan dipaku bumi kaki ini masih diam. Keadaan sekelilingku teramat sepi, tak ada seorangpun yang menyapaku.

Wajah ini semakin lusuh, kepada sesosok pria yang tak pernah mengerti aku. “Lagi ngapain?”, tampak secuil dosa terpampang diwajahnya. Senyum itu agak mengembang, hampir sama disaat bersama wanita berkerudung “Ngga lagi ngapa-ngapain, mang kenapa?”, ucapku tanpa menoleh sedikitpun kepadanya. Pria ini masih berdiri disamping tempatku duduk. Tubuhnya lebih kurus dariku, namun urat nadinya lebih menonjol keluar. Angin menerpa suasana diantara kami, diam membisu hanya itu yang terjadi diharinya bila bersamaku. Sudah kusisingkan lengan bajuku untuk membuatnya tetap tertawa, tapi yang terjadi hanya suasana hening yang kudapat. Mungkin, karena dia adalah pacar pertamaku yang benar-benar aku sukai. Walaupun dihati ini masih menunjuk kepada orang lain. Suasana saat bersamanya persis sekali seperti daun kering yang tertiup angin. Wajah kami sama-sama berlalu tanpa menoleh sedikitpun, sesekali kulirikkan mata ini.
“Boleh baca sms-nya?”
“Boleh”
Kubuka inbox dihp-nya, tak ada hal yang pribadi disana. Entah kenapa, wajahku meninggalkan senyum saat dia memperbolehkanku membaca sms-nya. “Mo pulang ngga?”, tanyanya padaku sambil melihat wajahku “Iya”
“Pulang bareng ngga?”
“Terserah”, kulihat senyumnya tergores. Kemudian aku berpamitan dengan teman lalu kami jalan beriringan. Tak membicarakan apapun, sepasang matanya sesekali bertabrakan mata denganku. Osh, jauh lebih tua dariku. Jalannya dipelankan mengikuti langkahku. Di koridor sekolah angin bertiup pelan, sebaris gadis IPS duduk berjejer dipinggir lantai koridor. Tertawa mereka riang “Ayo lagi ngapain?”, teriakku menyapa mereka “Mau rujak ngga?”, tawar mereka sambil menyodorkan aneka buah plus dengan sambelnya kepadaku. Osh masih terus berjalan seperti tak menghiraukan. Kucicipi satu irisan buah mangga mereka, mulutku belepotan karena sambelnya. Tertawaku masih belum usai karena ulahku ini. Osh menunggu dengan tatapannya, entah ada perasaan apa yang hadir didiri. Angin tertiup sebagaimana mestinya, dia pria pertama yang menunggu langkahku untuk menghampirinya. Supaya tubuh ini sejajar dengan langkahnya. Walaupun perasaan ini tak kukenali tapi segores pulpen berbentuk senyum tergambar dihatiku.

Suasana kelas saat ini sedang sepi, satu-dua orang menempati kelas dijam istirahat. Kutempati bangku belakang pojok kelas, tidak sengaja melihat dirinya. Sesosok berlalu didepan pintu, aromanya sangat khas hingga aku mengetahui sesosok itu. Tubuhnya mendekati wajah pedihku, lagi-lagi wanita berkerudung itu berjalan beriringan dengannya. Seperti melihatnya untuk pertama kali dan untuk yang sekian kalinya, perasaan yang timbul sangatlah menyakitkan. Dia tak akan mengetahui perasaan yang kualami saat ini, bila wanita berkerudung itu sedang bersamanya.

Dia tak akan pernah mengetahui; saat duduk berduaan dengannya ada seseorang yang tersenyum padaku, ketika benar-benar memperhatikannya isi hati ini terisi orang lain, saat mencarinya aku telah menemukan orang lain terlebih dahulu sebelum dia, ketika diteleponnya kukira itu dari seseorang yang selalu kuharapkan. Perasaan bersalah itu timbul kembali, aku sebenarnya tak pernah membalas cinta Osh. Mungkin juga karena itu tawanya tak pernah lama saat disampingku. Aku baru sadar bahwa aku selama ini tak pernah menghiraukannya.

Suatu hari disaat aku duduk berduaan dengan Osh didepan kelas. Seseorang itu menyapaku, mengungkapkan lagi kejadian yang dulu pada saat tak bersama Osh. Wajah ini menelungkup tak mau membalas senyumnya, tak ingin melihat wajah lesunya. Namun usaha ini percuma, tak membuahkan hasil. Osh dengan sikapnya seolah-olah menyetujui aku untuk menikmati masa laluku ini. Kupandangi seseorang itu dengan lekat seperti biasanya, seolah tak ada Osh disampingku dengan tatapan mengarah kepadaku. Kisah itu terulang kembali disaat aku ingin benar-benar melupakannya. Apa kesalahanku? Osh memberi peluang, disaat aku ingin membayar kesalahan ini. Dia tak lagi menghiraukanku bahkan ketika kita bertatap muka. Entah dari mana datangnya, tinta pulpen itu menggores hatiku pedih.

Seseorang itu menyapaku terus, memberi senyumnya yang sama ketika Osh tak ada dihariku dulu. Setiap pulang sekolah, aku menunggu seseorang itu yang seharusnya niatku ini menunggu Osh. Di koridor sekolah dekat ruang guru, di sanalah Osh menyadari saat itu aku belum pulang. Matanya tetap memperhatikanku lalu,
“Mau pulang ngga?”
“Ngga lagi nunggu Alu”, nama seorang adik kelas menjadi korban. Senyumku ragu kutunjukkan, walau pahit aku tersenyum. Saat sosoknya hilang dari hadapan, sejenak aku berpikir “Osh, seandainya kau benar-benar tahu seseorang yang sedang aku nantikan sekarang. Apakah senyum dibibirmu itu masih terpajang?”, kepala kutundukkan. Seperti ini dan selalu seperti ini, ketika aku ingin menelpon seseorang. Osh menuliskan kata berupa sms dihp-ku. Ketika hubungan kita penuh dengan liku, kupakukan tangan pada seseorang. Ketika Osh tak bisa menemaniku duduk, seseorang datang dengan maksud menggantikannya. Ketika tubuh Osh berlalu begitu saja disampingku, tiba-tiba seseorang memberi senyumnya menyapaku. Ketika kebetulan itu menjadi sebuah kebiasaan. Pelan-pelan palingan muka Osh menjadi suatu pembatas bagi kami, secara diam-diam.

Seseorang ingin aku menempati janji, suatu saat ketika itu kita akan bertemu lagi dan saat itu hatiku tak dipenuhi Osh. Dan dalam diriku sendiri aku berkata “Bila memang perasaan ini ada hanya untuk sekedar membalas cinta Osh yang dulu padaku. Walau menyakitkan biarlah aku tanggung, supaya aku dapat merasakan sesuatu yang selama ini Osh tanggung diam-diam”. Namun tetap saja aku seperti daun kering, hanya bisa bergerak ketika angin menggerakkanku. Dan aku ragu dengan sikap Osh yang mulai dingin tak memedulikanku, dengan sikap Osh yang seperti itu pelarianku menuju ke seseorang semakin menjadi suatu keharusan. Seseorang itu membentangkan tangan terhadapku. Lalu, ketika dua senyum menggores hatiku. Ada perasaan aneh yang timbul dan aku tak bisa memastikannya.

Tiba-tiba wanita berkerudung itu tersenyum padaku, dalam senyumnya dia berkata “Bila perasaanmu tulus, hal yang menyakitkan itu tak akan pernah terjadi”, kusibakkan rambut kebelakang. Mengartikan lebih dalam senyumnya, dia juga menyukai Osh lebih dari yang aku punya. Jendela disebelahku menghapuskan rintik dipipi. Mencurahkan tentang isi hatiku saat ini. Osh melewati kelasku tanpa menoleh sedikitpun. Seperti inikah dia disaat dijauhiku, pandanganku alihkan keluar jendela. Rerumputan hijau menari seakan menyambut kesedihan jiwaku. Kisah yang menyenangkan ini membuat coretan berbentuk senyum tergambar banyak dihati, tak heran satu coretannya sangat menyakitkan jiwa. Sedikit demi sedikit aku menyadari, kisah kita hanya sebuah kesalah pahaman. Tak berakar dan tak berujung.

“Kamu sama saya jadian mau engga?”
“Siapa?”
“Hm…”
“Si…apa?”
“Kamu sama saya…jadian?”, matanya menatapku ketika itu. Sekarang mata itu masih berarti sama, namun sikapnya sudah berubah. Pernah sekali aku rasakan cinta itu tak hadir terhadapku. Aku kira karena terlalu sering ditatapnya, tapi ternyata alasan itu salah. Kisahku bertepuk sebelah tangan, selama ini hanya dia yang merasa sakit hati. Ternyata itu hanya sebuah perasaanku saja. Osh, bila perasaan itu masih terjaga, aku pasti akan menghubungimu. Bila memang ada yang lebih baik dariku, biarkanlah dia duduk. Jangan pernah mengharapkanku…jangan biarkan dia pergi sepertiku…

Suatu saat aku pasti akan mengatakannya. Koridor sekolah sepi saat aku melewatinya dengan baju sekolah yang lusuh kulihat pintu kelasmu dari jauh. Ada sebuah senyum disana, pelan-pelan tanpa kau sadari aku telah berjalan mendekatinya dengan senyum menyinggung bibir walaupun seseorang masih mengikuti dalam jejak kaki ini. Seperti daun kering yang tertiup, bergerak mengikuti angin walau beberapa kerikil menyertai.


Pendidikan Duduk Santai

Filed under: Cerita Pendek

Bangku sekolah telah kududuki lebih dari tiga tahun. Telah mengajakku berpikir lebih jauh dari biasanya. Pelajaran yang biasa kuhadapi telah diperbaharui setiap detiknya. Akankah aku dapat mengikuti semua sifat-sifat yang selalu berubah ketetapannya setiap tahun. Bagaimana aku bisa memahami, setiap tingkah lakunya yang seharusnya sudah aku kenal baik. Kurikulum yang selalu berubah, membuat jantung copot setiap mendengarnya. Pendidikan yang belum merata menghambatku untuk bercermin. Tidak ada kaca di kelasku, hari membuat tubuh semakin kotor terjerumus lumpur kebodohan.

Pendidikan…pendidikan, suatu ungkapan yang patut dicurigai. Mengapa? Karena semua guru belum tentu bisa menyampaikan kepandaiannya untuk dicopy anak didiknya. Guru yang dibenci adalah motivasi untuk tidak selalu memperhatikannya di depan kelas selagi menerangkan. Aku ingin maju, kaki dan tangan waktu memaksaku begitu. Setidaknya omonganku menjadi pedomanku ketika bangku kelas tiga menyapaku.

Sudah kupoles setiap jawaban agar bangku guru tidak di duduki oleh pengajar yang kuremehkan. Namun apa yang terjadi, suatu perwakilanku ditendang keluar untuk berhenti menyeruakan kemajuan. Ternyata seoarang guru tidak hanya bermodalkan niat, kepintaran, kerajinan, tapi juga pengambilan hati seorangnya kepada murid agar muridnya tetap mencatat kata-kata yang telah diterangkannya. Dan yang lebih penting yaitu mempunyai perasaan “Tahu Diri“.

Bahasa yang kaku saat ngoceh di depan, sangatlah tidak diperlukan. Membuat mata berat bertambah dua puluh kilogram. Sayangkah guru pada kami? Harga diri kami serasa terinjak. Mereka katakan “Malu bertanya sesat di jalan”, saat menanyakan “Masa kamu ngga ngerti sih, inikan pelajaran kelas dua. Sekarangkan kamu sudah kelas tiga. Pengen kamu kekelas dua lagi?”.

Seolah mereka itu tidak pernah menyatakan hal yang sebelumnya. Kata-kata yang menjadi alasan tepat untuk tetap menulis, dengan hitungan detik hanya dengan kata-kata mereka menyentil pulpen murid dan membiarkannya jatuh ke lantai. Sebenarnya bukan kami yang bodoh tapi merekalah yang membuat kami malas. Itulah Indramayu dengan sosok pendidikannya.

Dengan secarik kertas aku hanya mencoba mengungkapkan sesuatu yang masih tersembunyi. Pendidikan di sini minim, seminim isi kantongku untuk tetap melanjutkan kejenjang selanjutnya. Pendidikan selalu diam yang ada di dalamnyalah yang bergerak. Secepat apakah gerakannya, tergantung kendaraan yang sekarang dia pakai. Mulai dari sekarang kudandani wajah manisnya supaya senyumku sumringah di saat mengetahui bahwa aku lulus dengan nilai hasilku, bukan polesan guru. Bisakah?

Pendidikan tergantung yang ada di dalam, masih maukah dia berjalan. Tidak duduk santai yang tampak di luar. Diam menyaksikan globalisasi yang menghanyutkan, menggigitkan jari.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar